Kinerja saham PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM) di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) cukup mencengangkan. Sejak listing perdana saham pada Senin (13/12) lalu, saham perseroan terus merangsek naik. Bahkan, pada perdagangan kemarin, saham tersebut nangkring di top gainer di tengah rontoknya saham-saham unggulan.
Tidak hanya itu, investor rupanya mengabaikan sentiment market yang terus memburuk sejak saham perseroan listing di lantai bursa. Sebab, tercatat secara beruntun saham perseroan mengalami auto riject (batas atas) boleh tidaknya suatu saham diperdagangkan. Padahal, sepanjang tiga hari terakhir indeks harga saham gabungan (IHSG) diterpa gejolak koreksi dan paling terpuruk pada penutupan perdagangan kemarin.
Pada saat listing Senin (13/12) lalu, saham perseroan ditutup menguat 105 poin (70 persen) ke posisi Rp 255 dari banderol harga IPO Rp 150. Selanjutnya, pada Selasa (14/12) mengalami auto riject setelah menguat 60 poin (24,35 persen) ke level Rp 315 dengan volume 14,339, dan pada Rabu (15/12) kembali mengalami auto riject dengan menguat 75 poin (24,3 persen) di level Rp 390 pada volume 173,740 serta pada Kamis (16/12), saham perseroan masih menjadi buruan investor dengan mencetat auto riject untuk kali ketiga dengan menguat 95 poin (24,35 persen) ke level Rp 485.
Bahkan yang mengejutkan, saham perseroan tersebut pada sesi pertama perdagangan kemarin sudah mengalami auto riject dan berada pada jajaran saham teraktif setelah biperdagangkan di level Rp 485 per saham atau naik 24,36 persen dibanding sebelumnya. Artinya, jika direkap dengan harga IPO sebesar Rp 150 pada saat listing, saham perseroan meroket 223,33 persen. Sementara frekuensi tercatat sebanyak 2.295 pada volume 98.584 dengan value senilai Rp 23,098 miliar. Sedangkan netbuy asing tercatat senilai Rp 7,350 miliar.
”Saya rasa saham perseroan mengalami kenaikan secara signifikan sejak listing lalu tidak lepas dari spekulatif. Artinya, kenaikan itu masih dalam taraf wajar sebagai saham pendatang baru dan bergerak lincah,” ungkap Nico J Omer, Vice President Valbury Securities, ketika dihubungi di Jakarta, Kamis (16/12).
Selain itu sebut Nico, saham perseroan yang dilepas ke pasar juga tidak terlalu banyak. Dengan demikian, sangat mudah saham tersebut terdongkrak jika yang memburu membengkak dan saham yang tersedia terbatas. Nah, disnilah sebut Nico mekanisme pasar berlaku permintaan dan persediaan tidak berimbang. ”Untuk sementara ini belum bisa dievaluasi kinerja saham tersebut. Paling telat bisa dilihat dalam tiga bulan mendatang,” jelas Nico.
Hanya saja menilik rating moody’s yang menempatkan situasi perbankan di tanah air ke peringkat positif, peluang perbankan ke depan sangat bagus. Seluruh saham perbankan lebih-lebih yang bergerak pada sektor UKM diprediksi akan terangkat. ”Outlooknya memang begitu. Tetapi, itu tidak terjadi secara otomatis dan meski dibarengi dengan kerja taktis,” ucap Nico. ”Kami sudah memantau perkembangan saham perseroan. Tetapi, untuk sementara ini kami belum bisa mengambil sikap terkait melejitnya saham group Sinarmas tersebut,” ungkap Urief Budhi Prasetyo, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (16/12). (*)
No comments:
Post a Comment