Thursday, 10 March 2011

PTBA Tak Butuh Pinjaman Perbankan

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan volume penjualan sebesar 16,8 juta ton sepanjang 2011. Kondisi itu mengalami lonjakan proyeksi 23 persen dibanding edisi sebelumnya. Perseroan mengklaim, kondisi tersebut akan tercapai sealur dengan rencana peningkatan volume angkutan Kereta api (KA) dan produksi tambang. ”Ya, proyek kami sedang digarap. Kemungkinan untuk menambah volume tersebut sangat terbuka,” ungkap Sukrisno, President Direktur PTBA di Jakarta, Kamis (10/3).
Di samping itu, perseroan juga telah menandatangani kerjasama dengan PT Indonesia Power untuk PLTU Suralaya, serta PT PLN untuk pasokan PLTU Bukit Asam dan PLTU Tarahan. Total volume pasokan batubara ke PLTU Bukit Asam direncanakan sebesar 1,0 juta ton dengan harga Rp 575 ribu per ton pada kalori 5 ribu kcal per kilogram. Sementara untuk pasokan ke PLTU Tarahan sebesar 0,7 juta ton pada harga Rp 729,325 per ton. ”Kami juga telah menyepakati harga jual untuk kontrak tambahan dengan pihak PT PLN volume 1 juta ton per tahun,” imbuh Sukrisno.
Sedangkan pasokan yang berlaku mulai 1 April 2011 hingga penghujung tahun telah disepakati dengan harga jual batubara dikisaran Rp 740.211 per ton, dengan kalori 4.900 kcal per kilogram. Untuk mengrem biaya, perseroan terus melakukan langkah-langkah efisiensi pada setiap kegiatan operasionalnya. Salah satunya membangun PLTU 3x10 mw di lokasi tanjung enim untuk pemakaian sendiri dengan investasi USD 41,4 juta. Pada Agustus mendatang proyek pembangunan PLTU tersebut sudah mulai beroperasi. ”Kita tekan biaya operasional dengan tetap mempertahankan kapasitas produksi,” jelasnya.
Sementara untuk pendapatan perseroan tercatat menurun 11,6 persen atau turun Rp 1,04 triliun menjadi Rp 7,91 triliun dibandingkan 2009 sebesar Rp 8,95 triliun. Volume penjualan meningkat 4 persen menjadi 12,95 juta ton dibanding 2009 dikisaran 12,48 juta ton. Komposisi volume penjualan terdiri dari 63,5 persen domestik dan 36,5 ekspor. Sementara harga jual pada pasar domestik sebesar Rp 612.366 per ton, turun 18 persen dibanding 2009 sebesar Rp 747.417 per ton. Sedangkan untuk pasar ekspor terjadi peningkatan, pada 2009 sebesar USD 64,59 meningkat 4,5 persen menjadi USD 67,50 di 2010. ”Itu gara-gara turunnya harga batubara sejalan dengan memburuknya market. Dan, itu tidak ada kaitannya dengan kondisi cuaca dan proses produksi,” imbuh Sukrisno.
Sedangkan laba bersih perseroan mencapai R 2,008 triliun turun sebanyak 26,4 persen di mana laba bersih pada 2009 sebesar Rp 2,727 triliun. Laba bersih perseroan yang menurun tersebut diakibatkan oleh penjualan yang juga mengalami penurunan sebesar 11,6 persen. Penjualan perseroan mencapai Rp 7,9 triliun sementara pada 2009 mencapai Rp 8,9 triliun. ”Sepanjang 2011 kami yakin bisa menyentuh level Rp 3 triliun,” tuturnya.
Perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 1,8 triliun. Sumber pendanaan capex berasal dari kas internal, dimana kas perseroan yang tersedia mencapai Rp 5 triliun. Bahkan, tidak sedikit dari sejumlah perbankan nasional yang menawarkan pendanaan untuk membiayai sejumlah proyek yang digarap perseroan. ”Untuk sementara ini, perseroan belum membutuhkan pinjaman atau pendanaan dari eksternal,” pungkasnya. (*)

No comments:

Post a Comment