
Judul Ceritalah Indonesia
Penulis Karim Raslan
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama September 2010
Tebal XIV + 135 Hal
Pasang surut hubungan Indonesia dengan negeri Jiran Malaysia ternyata sudah berlangsung lama. Dan, kalau dikatakan sebagai luka lama, maka benih-benih ketidakharmonisan itu masih tetap tumbuh dan berkecambah. Tidak aneh jika kemudian, pada perjalanannya, hubungan itu diwarnai ketegangan-ketegangan yang menjurus kontak senjata. Mulai kasus blok Ambalat, Laut Sulawesi, mengambangnya garis batas kedua negara, klaim budaya oleh Malaysia dan penyiksaan Tenaga Kerja Indoneisa (TKI) serta sejumlah kasus lain yang tentu lebih fenomenal macam Manohara.
Konflik-konflik itu juga tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Kalau menilik sejarah, jauh sebelum Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 silam, sejatinya telah terjalin hubungan antar pejuang Indonesia yang dijajah Belanda dan Malaysia di bawah pengaruh Inggris. Lantas kedua negara serumpun itu bersepakat untuk bersama-sama keluar dari pengaruh penjajah. Pada perjalanannya, niat untuk memproklamirkan kemerdekaan secara serentak itu tidak berjalan sesuai skenario. Indonesia lebih dulu merdeka dan Malaysia menyusul kemudian. Tindakan Indonesia itu, dianggap Malaysia sebagai tindakan tak sportif karena meninggalkan kawan seperjuangan. (Hal XI-XIII)
Konflik tersebut diakui atau tidak telah menyedot perhatian dan menghabiskan energy rakyat Malaysia dan Indonesia dari kebutuhan yang begitu mendesak. Kebutuhan mendesak yang dimaksud adalah soal penjagaan keamanan Selat Malaka, yang sudah lama menjadi incaran Amerika Serikat (AS). Negeri adidaya itu, terus mempersoalkan keamanan Selat Malaka seiring kasus pembajakan mengalami peningkatan.
Tetapi, persoalan pengamanan Selat Malaka, kedua Negara sama-sama bersikap tegas. Mereka tidak mau pengaruh luar masuk melalui konflik yang membelit dua Negara. Hanya saja, tetap saja ada celah Negara luar untuk masuk lewat cara-cara cerdik. Nah, kalau Indonesia dan Malaysia tidak membereskan dan cenderung mengawetkan konflik diplomasi, maka kedua Negara bakal menjadi incaran pengacau-pengacau international.
Kalau sudah begitu, maka dua Negara sebagai simbol muslim terbesar dunia, bakal tidak punya pengaruh kuat baik ditingkat regional dan international. Lebih buruk lagi, kata-kata ‘Serumpun’ menyeruak dan menjelma kepermukaan sebagai ladang dan akar segala konflik yang membekap di antara Indonesia dan Malaysia. (hal 132-135).
Penulis buku ini, yang notabenenya berkebangsaan Malaysia ternyata tidak mau larut dalam konflik tersebut. Sebagai seorang penulis, dia berada di tengah-tengah kalau tidak malah pro Indonesia. Dengan posisi yang diambil itu, dia dengan bebas bisa mengkritik praktik pemerintahan baik Negara Indonesia ataupun Malaysia.
Alih-alih mengkritik Indonesia, penulis malah mengkritik habis praktik pemerintah negaranya. Melalui bukunya itu, dia mencoba membandingkan pola sistem pemerintahan Indonesia dan Malaysia. Menurutnya, sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia telah membuka kotak pandora yang tidak akan mungkin tertutup kembali. Ia kemudian membandingkan dengan sistem pemeritahan Malaysia. Hal tersebut telah menempatkan Indonesia sebagai Negara dengan penuh pesona menghadapi masa-masa mendatang.
Karenanya dengan praktik demokrasi yang lebih terbuka, kemungkinan untuk mencapai tujuan yang dicanangkan Negara lebih bersifat merakyat. Dan, Indonesia telah menjadi model demokrasi paling progresif di daratan Asean. Itu terjadi sejak suksesnya pelaksanaan pemiliu 1999 dengan menghasilkan sosok Abdurrahman Wahid sebagai presiden dan Megawati sebagai Wakil Presiden. Tidak hanya itu, terpilihnya Gus Dur –sapaan akrab Abdurrahman Wahid, telah membuka mata dunia international. Indonesia yang berada di bawah ancaman disintegrasi bangsa terselamatkan. Terutama Bali, yang kala itu bergejolak karena Jagonya Megawati, gagal melenggang ke tampuk pimpinan nasional sebagai orang nomor satu.
Di sisi lain, penulis juga mengkritik Melayu dan Malaysia. Di mana menurutnya, Melayu-Malaysia lebih cenderung pada politik tentang hak dan kewajiban sebagai orang Melayu. Kemelayuan itu kemudian dalam penampakannya, lebih kental etnis. Itu sangat berbeda jauh bila dibandingkan dengan praktik Malayu dalam definisi lebih terbuka dan cair. Di Malaysia, Melayu kemudian menjadi identitas yang kerap memunculkan persoalan dengan bangsa lain semisal Cina dan India.
Pada satu sisi mengkritik habis praktik pemerintahan Malaysia, di lain sisi penulis memuji-muji Indonesia. Dalam hal industri pariwisata misalnya. Indonesia dinilai akan berkembang pesat pada masa-masa mendatang. Kemungkinan itu sangat terbuka lebar mengingat cakupan dan potensi sumber daya alam (SDA) Negara Indonesia sangat luas. Banyak objek-objek wisata yang bisa digarap dengan baik untuk menarik minat wisata manca.
Tetapi pada faktanya, hingga saat ini minat wisatawan yang bertandang ke Indonesia masih kalah bersaing dengan Singapura dan Malaysia. Menurut penulis banyak faktor yang harus dibenahi ke depan. Sebagai Negara kepulauan, Indonesia lebih punya potensi dari dua Negara tetangganya yang luas wilayahnya sangat terbatas. Industri pariwisata sangat riskan dengan keamanan, aturan-aturan dan infrastruktur, dan itu harus diperhatikan betul-betul.
Dalam hemat penulis, kalau industri pariwisata Indonesia ingin lebih menggigit maka ada beberapa hal pokok yang harus dilakukan. Pertama, imigrasi harus transparan dan teratur. Para wisatawan menginginkan waktu yang singkat dan cepat dalam mengurus segala keperluan soal keimigrasian. Dan, yang terjadi, para wisatawan harus berlarut-larut di imigrasi. Kedua, maskapai penerbagangan harus bias menjangkau daerah-daerah terdalam. Sebab, masih banyak daerah yang secara wisata menarik dikunjngi tetapi untuk menjangkaunya susah. Ketiga, infrastruktur di Negara ini masih amburadul. Mulai soal toilet, jalan dan fasilitas umum. Keempat, pemerintah daerah harus proaktif mengambil peran dalam ikut memajukan industry wisata di daerahnya masing-masing. Sebab, selama ini daerah lebih banyak bergantung pada pusat. Dan, yang terakhir adalah pemerintah daerah juga harus memperhatikan lingkungan. Sebab, jamak terjadi pemerintah daerah mengambil kebijakan yang tak ramah pada lingkungan.
Dalam buku ini setidaknya tercecer 29 artikel atau cerita. Selanjutnya, cerita itu terangkum dalam tiga tema utama: seni, politik-ekonomi dan hubungan dua negeri. Menariknya, buku ini ternyata mengupas soal Indonesia dari sisi terdalam kehidupan rakyat kecil yang selama ini tidak terkaver media. Kehidupan sosial masyarakat pinggiran lengkap dengan mimpinya sebagai rakyat Indonesia yang tekun, giat rajin dan tidak sepenuhnya bergantung kepada pemerintah pusat.
Kekuatan buku ini terletak pada narasi dan gaya bertutur yang runtut dan cair. Penggunaan bahasa yang sederhana dan tentunya sangat mudah untuk dicerna. Dengan membaca buku ini, anda akan dibawa untuk menyelami lebih dalam akan arti dan pentingnya konteks social Indonesia baik di masa lalu atau kekinian. Lebih dari itu, pembaca akan mengetahui bagai sebenarnya media menggambarkan konflik lintas batas antara Indonesia dan Malaysia.
Penulis lewat buku ini menunjukkan jatidirinya sebagai seorang pencerita yang telanjur cinta kepada apa yang dibeberkannya. Sebagai lulusan Universitas Cambridge Inggris, juga pernah menjadi pengacara ternama, dia ternyata amat bijak dalam menempatkan ceritanya soal Indonesia. (*)
No comments:
Post a Comment