Proses penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) yang dibanderol Rp 750 per lembar saham berlangsung monoton. Investor ritel yang mempunyai kesempatan mengoleksi saham perseroan tidak terlihat. Mereka apatis dan kehilangan daya tarik untuk menyerap saham perseroan yang diklaim manajemen murah. Ini kontraproduktif bila dibanding dengan jalannya proses IPO Kraktau Steel (KS) yang begitu dijejali investor.
Kondisi tersebut sebenarnya bukan hal aneh. Jauh hari sebelum digeber masa penawaran, tanda-tandanya sudat terlihat. Mulai proses bookbuilding (pembentukan harga awal), public expose, penetapan harga final yang tertunda dan proses roadshow yang terkesan asal-asalan. Situasi itu semakin parah menyusul memburuknya global market yang tidak mendukung hajatan IPO Garuda menuju lantai bursa.
Efek lanjutannya adalah saham perdana perseroan tidak mampu menyedot minat investor asing. Asing mundur dari persaingan mengoleksi saham perseroan setelah mengetahui sejumlah kejanggalan pada tubuh manajemen burung besi pelat merah tersebut. Padahal, sebelum public expose dan roadshow ke luar negeri, manajemen berapi-api dengan kepala tegak menyebut saham Garuda sangat dinantikan investor asing. Tidak minatnya investor asing tersebut menular pada pelaku pasar domestik. Investor domestik dibayangi keragu-raguan akan prospek harga saham Garuda ke depan.
Menilik fakta itu, sejumlah investor domestik mengambil opsi untuk mengoleksi saham Garuda di pasar sekunder (secondary market). "Kalau saham Garuda prospek tidak mungkin ditawarkan kepada investor domestik. Saya perkirakan saham Garuda bakal anjlok beberapa saat setelah listing. Karena itu ngapain beli sekarang, mending menunggu pasar sekunder,” tukas Anton, salah satu investor domestik di sela-sela penawaran saham Garuda, di Jakarta, Rabu (2/2).
Anton pada awalnya minat untuk membeli saham perdana Garuda. Tetapi, setelah melihat perkembangan yang kurang mendukung, Anton memutuskan untuk memantau sejauh mana animo investor lokal. Memburuknya, saham Garuda, setidaknya didasarkan pada beberapa hal. Salah satunya track record Bahana Sekuritas dan Danareksa Sekuritas selaku under writer yang dikenal gemar menjual saham sesaat setelah IPO berlangsung. "Itu semua sudah menjadi rahasia umum. Mereka suka jual-jual saham, jadi harga akhirnya jatuh,” tutur Anton.
Selain faktor under writer, lanjut Anton, faktor fundamental kinerja perusahaan Garuda sendiri juga belum begitu menjanjikan. Hutang perseroan terus membengkak dan tidak diimbangi dengan kinerja yang menjanjikan. Di samping itu, sejumlah pesawat Garuda didanai dari hutang. "Saya sih patokannya investor asing saja. Buktinya mereka tidak banyak membeli,” pungkas Anton.
Soal kinerja 2010, manajemen Garuda memperkirakan meraih pendapatan sekitar Rp 20-25 triliun. Pendapatan itu didukung pembukaan rute baru sehingga menambah frekuensi baru. Selain itu, perseroan juga menambah 24 armada sehingga daya angkut penumpang (load factor) menjadi 71 persen. ”Laba bersih diperkirakan mencapai Rp 420-450 miliar pada 2010,” ungkap Elisa Lumbantoruan, Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia.
Sementara pada 2011, perseroan menargetkan pendapatan tumbuh sekitar 20-25 persen. Peningkatan pendapatan itu akan didukung penambahan frekuensi baru dan penambahan daya angkut di atas 75 persen. Di mana jumlah frekuensi penerbangan pada Januari 2010 sekitar 247 penerbangan per hari dan pada Januari 2011 sudah mencapai 311. ”Jadi, yield kita naik 5-10 persen," yakin Elisa. (*)
No comments:
Post a Comment