Wednesday, 9 February 2011

Default Saham Garuda Rp 520 Miliar

Sementara itu, dua dari tiga underwriter tak berhasil menjajakan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) PT Garuda Indonesia (GIAA). Dua penjamin emisi itu masing-masing PT Danareksa Sekuritas (OD), PT Bahana Securities dan satu agen penjual PT BNI Securities. Dengan fakta itu, praktis hanya Mandiri Sekuritas yang hampir sukses memasarkan saham GIAA kepada investor.
Dengan langkah itu, maka PT Danareksa Sekuritas (OD) akan menanggung saham perdana GIAA yang tidak dieksekusi nasabah senilai Rp 200 miliar. Menurut salah seorang pelaku pasar yang terlibat dalam penjualan saham GIAA, nilai tersebut telah menyusut tajam dari posisi pekan lalu senilai Rp 800 miliar.
Sedangkan broker PT Bahana Securities juga harus menanggung saham perdana GIAA yang tidak dieksekusi senilai Rp 300 miliar, menurun dari posisi pekan lalu sebesar Rp 500 miliar. Sedangkan PT Mandiri Sekuritas hampir seluruhnya berhasil dijual lantaran banyak menangani investor institusi. Broker PT BNI Securities yang menjadi agen penjual juga harus menanggung sebesar Rp 20 miliar. "Default order terjadi karena banyak investor ritel yang tidak mengeksekusi pesanannya dan kegagalan UBS dan Citi dalam memasarkan saham perdana GIAA kepada investor asing," tambah investor kawakan tersebut.
Menurutnya, UBS dan Citi pada periode bookbuilding hanya berhasil menjual Rp 90 miliar dari jatah asing senilai Rp 945 miliar atau setara dengan 20 persen dari nilai IPO sebesar Rp 4,7 triliun. Akibatnya, jatah asing sebesar Rp 855 miliar dikembalikan kepada lead underwriter. "Atas alasan itulah, UBS dan Citi kemudian menggalang pinjaman sebesar USD 120 juta kepada GIAA untuk menjaga hubungan baik," jelasnya.
Sumber lain mengatakan, investor asing tidak meminati saham perdana GIAA lantaran harga terlalu mahal. Asing menawar GIAA di kisaran Rp 450-550 per saham. "Melihat sahamnya tidak laku dijual, Dirut GIAA Emirsyah Satar sempat mengeluh ke pak Menteri (Mustafa Abubakar) karena pak Menteri menetapkan harga terlalu tinggi. Menurut Emir, harga layak GIAA di level Rp 550 per saham," ungkap sumber.
Sayangnya, belum satu pun manajemen broker-broker tersebut yang berhasil dihubungi untuk mengkonfirmasi informasi tersebut. Namun mengacu pada angka-angka di atas, total default order mencapai Rp 520 miliar. Nilai itulah yang harus ditanggung oleh penjamin emisi. ”Ya, seluruh penjamin emisi harus bertanggung jawab dan menyerap saham yang tidak ditebus investor tersebut,” ungkap pelaku pasar itu. (*)

No comments:

Post a Comment