Penetapan harga Saham Perdana PT Garuda Indonesia melalui mekanisme IPO (initial public offering) dikisaran Rp 750 berbuntut panjang. Kecurigaan pun merebak atas rendahnya penetapan harga IPO dari banderol range harga Rp 750-1.100. Bau konspirasi semakin menguat karena pada saat berbarengan pemerintah juga mengumumkan harga penawaran saham terbatas (right issue) PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada harga Rp 5.000. Padahal, harga pasar BMRI berada di level Rp 5.800-5.900.
Kecurigaan pelaku pasar atas dua aksi korporasi sangat beralasan. Pemerintah jelas punya kepentingan dan motif tertentu dibalik semua langkah tersebut. Sebab, sebagaimana diketahui, dalam rencana pelepasan saham perdana Garuda sebanyak 6,335 miliar lembar saham, tercatat 1,9 miliar lembar saham adalah milik BMRI. Dengan aksi tersebut, pembeli saham right issue BMRI, secara tidak langsung akan mendapat saham Garuda. “Ini bukan soal murah atau tidak. Pasti ada yang tidak beres dan skenario besar dibalik ini semua. Di sisi lain, right issue saham BMRI juga mengalami diskon yang sangat besar dari harga pasar saat ini,” ujar Yanuar Rizky, Pengamat Pasar Modal, ketika dihubungi di Jakarta, Kamis (27/1).
Yanuar juga mengaku tidak habis pikir dengan pernyataan Menteri Negara BUMN, Mustafa Abubakar, yang mengklaim harga itu merupakan kesepakatan final dan sesuai dengan kondisi pasar. Sebab sambung Yanuar, manajemen beserta penjamin emisi telah melakukan roadshow ke sejumlah kota baik dalam dan luar negeri. Hasil roadshow menajemen mengungkap mendapat respon dan tanggapan positif dari pelaku pasar. Tapi menariknya, penetapan harga justru berada di level bawah. Level yang menunjukan bahwa harga saham ini, tidak diminati pasar. “Dalam proses IPO, penjamin emisi tentu akan berusaha menawarkan harga setinggi mungkin. Dari kisaran harga itu, biasanya level terendah menunjukan pesimistis, sebaliknya kalau di level tinggi optimis,” tuturnya.
Sejatinya kejanggalan dalam proses IPO Garuda sudah terlihat sejak publik ekspose hingga masa bookbuilding (masa penawaran awal). Pada saat publik ekspos misalnya dilakukan secara mendadak, dan harus menunggu persetujuan dari berbagai pihak, termasuk juga Presiden. Begitupula saat pengumuman harga perdana, yang terpaksa mengalami penundaan, karena masih menunggu pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Sederet fakta di atas sambung Yanuar, mengindikasikan ada sesuatu yang tidak beres dalam proses IPO BUMN tersebut. Kebobrokan dan ketidakberesan itu akan terkuak, jika nanti pemerintah memutuskan tidak mengambil right yang dimiliki atas saham BMRI, dan menjualnya di pasar negosiasi. “Ya, gampang untuk pembuktiannya. Kita lihat saja nanti seberapa besar penjatahan pasti yang diberikan pada saat offering saham Garuda dan harga saham pada saat perdagangan perdana di pasar sekunder,” ucapnya.
Yang lebih mencengangkan saham perdana Garuda hanya kelebihan permintaan 1,3 kali. Alokasi investor domestik sebesar 80 persen baik institusi maupun ritel dan 20 persen porsi asing. Dari porsi 30 persen saham yang dilepas, Garuda hanya mengeksekusi 26 persen. Sisanya, sebesar 4 persen akan disesuaikan dengan kebutuhan Garuda.
Total saham yang dilepas sebesar 6,27 miliar lembar. Dari total itu porsi Garuda 4,4 miliar saham, sedangkan Bank Mandiri yang memiliki saham di Garuda mendapat porsi divestasi 1,9 miliar lembar. Dengan harga Rp 750, IPO Garuda meraup dana Rp 1,42 triliun untuk Bank Mandiri dan Rp 4,8 triliun bagi Garuda. ”Kami sangat terkejut dengan fakta yang di luar perkiraan ini,” ungkap Edwin Sebayang, Head of Research Bhakti Securities.
Edwin menjelaskan ini baru pertama terjadi dalam sejarah IPO, sebanyak 57 persen dari pemesanan bookbuilding dipenuhi underwriter. Dan, hal tersebut tidak mengejutkan karena sacara valuasi (menggunakan PER, PBV & EV/EBITDA) dengan harga Rp 750, sudah termasuk mahal. Itu jika dibanding dengan pesaing terdekat seperti Singapore Airline, Cathay Pacific, AirAsia dan Malaysia Airlines. Garuda juga kalah bersaing dengan Lion Air dalam hal market share penumpang di dalam negeri. Di tengah persaingan yang sangat ketat di dalam industri yang sudah mature, margin keuntungan yang didapat sangat ketat sehingga untuk meningkatkan revenue dengan penambahan pesawat untuk memenuhi jalur baru juga akan sulit dicapai mengingat dana yang diperoleh dari hasil IPO, sekitar 24 persen untuk bayar hutang ke Bank Mandiri. Terlebih Garuda tidak akan memberikan dividen sebelum melakukan Kuasi Organisasi. Melihat beberapa hal sederhana itu, tidaklah mengherankan jika investor asing kurang berminat membeli saham Garuda. Seharusnya harga wajar IPO yang ditetapkan sekitar Rp 550-600 agar ada benefit bagi investor untuk mendapatkan upside saham tersebut.
Sementara Yuganur Wijanarko, Senior Research PT HD Capital, menyebutkan kisaran harga saham perdana Garuda Rp 750-1.100, sudah menunjukan valuasi yang wajar. Sehingga, kalaupun itu dijual dikisaran Rp 1100, dianggap masih prospektif. Memang sebut dia, perhitungan Garuda tidak memiliki perbandingan yang setara. Karena dalam industri penerbangan lokal, Garuda tidak ada saingan. “Namun dari segi valuasi price earnings ratio (PER) diperkirakan sekitar 11-15 kali untuk 2010,” tukasnya. (*)
No comments:
Post a Comment