Efek buruk implementasi sistem transaksi berkecepatan tinggi mulai menghantui perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Itu setelah salah satu investor asing PT Trimegah Securities tbk (TRIM) melakukan praktik Quote Stuffing (order semu). Otoritas bursa pun langsung memberikan sanksi peringatan tertulis kepada TRIM selaku broker.
Nasabah Trimegah tersebut melakukan praktik seolah-olah akan melakukan order beli dalam jumlah besar. Tetapi, praktik yang dikenal dengan sebutan Quote Stuffing tersebut mendadak secara tiba-tiba transaksi dibatalkan. Efeknya, aksi itu memberikan gambaran semu terhadap supply dan demand di pasar. “Berdasarkan pantauan kami, perseroan terdeteksi melakukan order dengan pola tak wajar. Akibatnya, jelas terindikasi sebagai upaya mempengaruhi pasar dan manipulasi transaksi,” ungkap Wan Wei Yiong, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, di Jakarta, Selasa (14/10).
Terdeteksinya Quote Stuffing itu, terjadi pada 5 Oktober 2010 lalu. Di mana salah satu nasabah Trimegah di luar negeri yang memasukkan order transaksi menggunakan fasilitas Direct Market Accses (DMA) untuk membeli saham di bursa domestik. Saham-saham yang dibeli nasabah Trimegah tersebut termasuk kategori saham unggulan.
Sementara Uriep Budhi Prasetyo, Direktur Pengawasan dan Kepatuhan Bursa, menyebutkan Trimegah telah melakukan kesalahan. Itu karena perseroan tidak mampu melakukan pengawasan terhadap nasabah yang melakukan transaksi. Order beli dilakukan secara berulang dalam kelipantan berganda, hingga 18.000 kali. ”Praktiknya, sembari transaksi berjalan, transaksi sebelumnya dibatalkan (repeation),” ulas Uriep.
Transaksi macam itu sebut Uriep, dimungkinkan dengan menggunakan DMA dengan jaringan internet khusus. Kondisi itu bisa terjadi jika transaksi menggunakan metode algoritma trading. Di Amerika Serikat (AS), praktik quote stuffing ini pernah mendera Indeks Dow Jones pada 6 Mei lalu. Kala itu, Indeks Dow Jones kacau balau dan anjlok 9 persen. Situasi itu, mengudndang regulator pasar modal AS (Securities Exchange Commision/SEC) berencana mengatur penggunaan teknologi transaksi berkecepatan tinggi tersebut.
Sementara istilah quote stuffing diperkenalkan Nanex LLC, pengembang database perdagangan yang mengeluarkan kajian dan system algoritma trading. Lewat Qoute Stuffing Nanex LLC itu, sistem algoritma trading diduga menjadi penyebab kegaduhan indeks Dow Jones pada 6 Mei silam. Karenanya, Urip menegaskan, akan melakukan pemeriksaan terhadap sistem DMA Trimegah. Apalagi Trimegah ditengahi menggunakan Algoritma Trader dalam transaksi tersebut yang belum mendapatkan izin dari BEI. Sedangkan, Manajemen Trimegah sudah melaporkan ke otoritas bursa kejadian tersebut. Untuk saat ini DMA Trimegah tidak bisa digunakan, BEI akan melakukan review terhadap sistem tersebut. “Kami periksa dulu apakah system DMA mereka bisa digunakan lagi,” tegasnya. (*).
Nasabah Trimegah tersebut melakukan praktik seolah-olah akan melakukan order beli dalam jumlah besar. Tetapi, praktik yang dikenal dengan sebutan Quote Stuffing tersebut mendadak secara tiba-tiba transaksi dibatalkan. Efeknya, aksi itu memberikan gambaran semu terhadap supply dan demand di pasar. “Berdasarkan pantauan kami, perseroan terdeteksi melakukan order dengan pola tak wajar. Akibatnya, jelas terindikasi sebagai upaya mempengaruhi pasar dan manipulasi transaksi,” ungkap Wan Wei Yiong, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, di Jakarta, Selasa (14/10).
Terdeteksinya Quote Stuffing itu, terjadi pada 5 Oktober 2010 lalu. Di mana salah satu nasabah Trimegah di luar negeri yang memasukkan order transaksi menggunakan fasilitas Direct Market Accses (DMA) untuk membeli saham di bursa domestik. Saham-saham yang dibeli nasabah Trimegah tersebut termasuk kategori saham unggulan.
Sementara Uriep Budhi Prasetyo, Direktur Pengawasan dan Kepatuhan Bursa, menyebutkan Trimegah telah melakukan kesalahan. Itu karena perseroan tidak mampu melakukan pengawasan terhadap nasabah yang melakukan transaksi. Order beli dilakukan secara berulang dalam kelipantan berganda, hingga 18.000 kali. ”Praktiknya, sembari transaksi berjalan, transaksi sebelumnya dibatalkan (repeation),” ulas Uriep.
Transaksi macam itu sebut Uriep, dimungkinkan dengan menggunakan DMA dengan jaringan internet khusus. Kondisi itu bisa terjadi jika transaksi menggunakan metode algoritma trading. Di Amerika Serikat (AS), praktik quote stuffing ini pernah mendera Indeks Dow Jones pada 6 Mei lalu. Kala itu, Indeks Dow Jones kacau balau dan anjlok 9 persen. Situasi itu, mengudndang regulator pasar modal AS (Securities Exchange Commision/SEC) berencana mengatur penggunaan teknologi transaksi berkecepatan tinggi tersebut.
Sementara istilah quote stuffing diperkenalkan Nanex LLC, pengembang database perdagangan yang mengeluarkan kajian dan system algoritma trading. Lewat Qoute Stuffing Nanex LLC itu, sistem algoritma trading diduga menjadi penyebab kegaduhan indeks Dow Jones pada 6 Mei silam. Karenanya, Urip menegaskan, akan melakukan pemeriksaan terhadap sistem DMA Trimegah. Apalagi Trimegah ditengahi menggunakan Algoritma Trader dalam transaksi tersebut yang belum mendapatkan izin dari BEI. Sedangkan, Manajemen Trimegah sudah melaporkan ke otoritas bursa kejadian tersebut. Untuk saat ini DMA Trimegah tidak bisa digunakan, BEI akan melakukan review terhadap sistem tersebut. “Kami periksa dulu apakah system DMA mereka bisa digunakan lagi,” tegasnya. (*).
No comments:
Post a Comment