Friday, 25 February 2011

Fluktuatif, Selektif Gunakan Fasilitas Marjin

Transaksi marjin sepanjang Januari 2011 hanya mencapai Rp 12,37 triliun. Transaksi itu mengalami penurunan sebesar 31,17 persen dibanding periode sama tahun lalu dikisaran Rp 17,97 triliun. Merosotnya transaksi marjin tersebut sejalan dengan memburuknya situasi market yang sejak awal tahun ini terus mengalami tekanan.
Rupanya, investor tidak terlalu agresif memanfaatkan fasilitas marjin. Mereka tertahan dan memilih berhati-hati dalam bertransaksi meski persyaratan fasilitas transaksi marjin relative mudah. Tetapi, karena tingkat risiko dirasa lebih tinggi seiring situasi market yang labil, membuat investor tidak berani berspekulasi.
Merujuk data Bursa Efek Indonesia (BEI), rincian total transaksi marjin itu meliputi transaksi marjin beli tercatat Rp 5,79 triliun atau turun sekitar 50,80 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 8,74 triliun. Sementara transaksi marjin jual mencapai Rp 6,57 triliun atau melorot sekitar 28,79 persen menjadi Rp 9,23 triliun.
”Sebenarnya, investor sempat punya konfidensi tinggi dengan ramalan-ramalan bakal membaiknya market dan indeks akan meningkat. Tetapi, dalam perjalanannya, situasi tersebut sedikit meleset dari kerangka teoritis sebagaimana digembar-gemborkan,” tukas Gema Merdeka Goeyardi, Analis UOB Kay Hian Securities, ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (25/2).

Bapepam Desak Emiten Pertegas Skema Merger

Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mendesak manajemen tiga perusahaan tercatat memaparkan skema penggabungan usaha (merger). Ketiga perusahaan itu antara lain PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek), PT Surya Citra Media Tbk (SCTV), dan PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM). Pasalnya, rencana tersebut telah mencuat dan memengaruhi kondisi market.
”Kita minta mereka untuk menjelaskan rencana merger itu dipertegas. Itu penting untuk menghindari simpangsiur di market,” ungkap Noor Rachman, Kepala Biro PKP Sektor Jasa Bapepam-LK, di Jakarta, Jumat (25/2).
Noor Rachman menjelaskan, pihaknya belum mengetahui detail rencana aksi korporasi dari tiga emiten itu. Termasuk apakah merupakan transaksi material biasa atau bisa berpeluang menjadi transaksi benturan kepentingan. "Detailnya mengenai rencana merger itu belum disampaikan kepada kami,” tambah Noor.

Konfidensi Asing Luruh

Sepanjang pekan ini indeks harga harga saham gabungan (IHSG) dilanda ketidakpastian. Fluktuasi market dan kekhawatiran konflik Timur Tengah (Timteng) menjadi salah satu pemicu anomaly gerakan indeks tersebut. Efeknya, sepanjang pekan itu indeks lebih banyak diwarnai koreksi dengan bumbu aksi jual.
Nuansa serupa sejatinya terjadi sejak awal perdagangan akhir pekan kemarin. Tetapi, untungnya indeks terselamatkan pada menit-menit terakhir. Itu terjadi setelah investor melakukan akumulasi beli pada sejumlah saham unggulan menyusul laporan keuangan yang mereka lansir menunjukkan tanda-tanda positif dan meningkatkan kepercayaan investor.
”Indeks terselamatkan dengan aksi beli yang dilakukan pelaku pasar setelah mendapat kepastian hasil laporan keuangan emiten 2010 sangat baik dan memberi harapan,” ungkap Viviet S Putri, Analis Anugerah Sekurindo Indah, ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (25/2).

Thursday, 24 February 2011

Astra Otoparts Cetak Laba Bersih Rp 1,141 triliun

PT Astra Graphia Tbk (ASGR) sepanjang 2010 mencetak laba bersih Rp 118,41 miliar alais naik 76,78 persen dibanding periode sama tahun lalu dikisaran Rp 66,95 miliar. Pertumbuhan laba didorong peningkatan penjualan perseroan sebesar 17,22 persen menjadi Rp 1,565 triliun dibanding periode sama dilevel Rp 1,335 triliun. Laba kotor perseroan naik 18,87 persen menjadi Rp 456,95 miliar dibanding Rp 384,41 miliar pada 2009.
Seiring meningkatnya penjualan, beban usaha ASGR tercatat naik 9,96 persen menjadi Rp 298,61 miliar dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp 271,55 miliar. Setelah dikurangi beban, laba usaha perseroan mencapai Rp 158,33 miliar, naik 40,3 persen dibanding Rp 112,86 miliar pada tahun sebelumnya. Selain itu perseroan memperoleh keuntungan selisih kurs sebesar Rp 1,118 miliar dimana pada periode sama tahun 2009, perseroan rugi kurs Rp 7,48 miliar. Beban bunga ASGR tercatat sebesar Rp 3,38 miliar, turun 80 persen dibanding Rp 16,86 miliar tahun 2009.

Merger, IDKM Tergusur dari Lantai Bursa

Petualangan PT Indosiar Karya Medika Tbk (IDKM) dijagad lantai bursa efek indonesia (BEI) dipastikan berakhir. Itu jika opsi skema penggabungan usaha (merjer) dengan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) menjadi pilihan utama. Selanjutnya, saham IDKM akan melebur ke dalam saham SCMA pascamerger tersebut rampung.
”Kalau opsinya merger maka kemungkinan besar surviving company adalah saham SCMA,” ungkap Handoko, Direktur Utama Indosiar, di Jakarta, Kamis (23/2).
Artinya, penggabungan usaha dua perusahaan terbuka itu akan menghapus (delisting) saham IDKM, dari lantai bursa. Hanya saja, proses merjer itu masih dalam tahap pembicaraan, apakah struktur yang akan diambil adalah merjer ataukah akuisisi. “Untuk sementara ini mengenai bentuk final soal struktur aksi korporasi belum bisa diungkap. Nantinya, struktur aksi korporasi itu akan disampaikan progressnya kepada otoritas bursa,” imbuh Handoko.

Tuesday, 22 February 2011

Bursa Ancam Sanksi Tiga Emiten

Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah tegas menyusul rencana aksi korporasi PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) dengan Grup SCTV, yaitu PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Aksi tiga perusahaan terbuka itu dalam hemat bursa berpotensi mengganggu harmonisasi pasar. Karena itu, dalam jangka tiga hari mendatang mereka akan dipanggil menghadap bursa.
”Kita panggil mereka untuk memberi penjelasan secara faktual tentang rencana yang telah menguap ke pasar tersebut. Ini penting untuk menghindari kemungkinan terburuk yang bisa merugikan pelaku pasar,” ungkap Urif Budhi Prasetyo, Direktur Pengawasan Transaksi dan Anggota Bursa, ketika ditemui di Jakarta, Selasa (22/2).
Urif menyebutkan, ketiga perusahaan tersebut nantinya harus bisa menjelaskan secara detail soal rencana merger yang mereka gagas. Soal lain adalah mengenai bagaimana skema dan mekanisme merger tersebut akan dilakukan. Selain itu, termasuk bagaimana kelanjutan dari nasib perusahaan setelah rencana merger terealisasi. ”Ya, nanti kita minta mereka untuk menjelaskan secara komfrehensif seputar rencana merger itu,” imbuhnya.

Monday, 21 February 2011

Investor Pilih Opsi Defensif

Performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kurang menggigit. Itu setelah kemarin indeks dipaksa menyudahi perdagangan di zona merah. Indeks pun gagal mempertahankan posisinya dikisaran 3500. "Saya rasa indeks hari ini masih akan bergerak mixed. belum ada sentimen yang benar-benar bisa menggerakkan investor," ungkap Budi Ruseno, analis pasar modal ketika dihubungi di Jakarta, Senin (21/2).
Budi menyebutkan, investor saat ini lebih selektif dalam menatap saham-saham yang laik koleksi. Mereka mengambil jalan moderat tersebut menyusul sepinya sentimen positif. Pada faktanya, investor memilih bertahan sambil mengamati pasar dari jarak dekat. "Buktinya, pada transaksi kemarin relatif menipis. Investor menahan diri," imbuh Budi.
Langkah selectif buying investor tersebut tidak bisa dilepaskan dari situasi terkini. Mulai merebaknya gejolak Timur Tengah (Timteng), kekhawatiran inflasi yang masih membayangi dan belum munculnya laporan keuangan emiten 2010 secara menyeluruh. "Tapi, untungnya indeks global mulai bergerak di teritorial positif. Ini yang membuat pelaku pasar sedikit terangkat konfidensinya," jelas Budi.