Proses Initial Public Offering (IPO) saham perdana PT Garuda Indonesia (GI) penuh dengan kejanggalan dan ketidakwajaran. Penetapan harga IPO dikisaran Rp 750 tidak mencerminakan harga pasar. Karenanya, banyak prediksi berseliweran kalau saham perseroan tidak punya prospeks cerah ke depan.
Selain tidak tepat waktu dan market memburuk, Garuda juga tidak didukung dengan kinerja yang menjanjikan. Efeknya, hutang Garuda membengkak dan diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan akan tetap berkutat dengan penyelesaian hutang. Di samping itu, industri penerbangan tidak termasuk dalam daftar sektor unggulan. "Ini jelas-jelas dipaksakan. kalau ngomong tataran ideal, saat ini tidak tepat untuk proses IPO," ungkap Billy Budiman, Head of Tecnical Analyst Batavia Presporindo Sekuritas, ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (27/1).
Friday, 28 January 2011
Thursday, 27 January 2011
Konspirasi Bumbui Penetapan Harga IPO Garuda
Penetapan harga Saham Perdana PT Garuda Indonesia melalui mekanisme IPO (initial public offering) dikisaran Rp 750 berbuntut panjang. Kecurigaan pun merebak atas rendahnya penetapan harga IPO dari banderol range harga Rp 750-1.100. Bau konspirasi semakin menguat karena pada saat berbarengan pemerintah juga mengumumkan harga penawaran saham terbatas (right issue) PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada harga Rp 5.000. Padahal, harga pasar BMRI berada di level Rp 5.800-5.900.
Kecurigaan pelaku pasar atas dua aksi korporasi sangat beralasan. Pemerintah jelas punya kepentingan dan motif tertentu dibalik semua langkah tersebut. Sebab, sebagaimana diketahui, dalam rencana pelepasan saham perdana Garuda sebanyak 6,335 miliar lembar saham, tercatat 1,9 miliar lembar saham adalah milik BMRI. Dengan aksi tersebut, pembeli saham right issue BMRI, secara tidak langsung akan mendapat saham Garuda. “Ini bukan soal murah atau tidak. Pasti ada yang tidak beres dan skenario besar dibalik ini semua. Di sisi lain, right issue saham BMRI juga mengalami diskon yang sangat besar dari harga pasar saat ini,” ujar Yanuar Rizky, Pengamat Pasar Modal, ketika dihubungi di Jakarta, Kamis (27/1).
Kecurigaan pelaku pasar atas dua aksi korporasi sangat beralasan. Pemerintah jelas punya kepentingan dan motif tertentu dibalik semua langkah tersebut. Sebab, sebagaimana diketahui, dalam rencana pelepasan saham perdana Garuda sebanyak 6,335 miliar lembar saham, tercatat 1,9 miliar lembar saham adalah milik BMRI. Dengan aksi tersebut, pembeli saham right issue BMRI, secara tidak langsung akan mendapat saham Garuda. “Ini bukan soal murah atau tidak. Pasti ada yang tidak beres dan skenario besar dibalik ini semua. Di sisi lain, right issue saham BMRI juga mengalami diskon yang sangat besar dari harga pasar saat ini,” ujar Yanuar Rizky, Pengamat Pasar Modal, ketika dihubungi di Jakarta, Kamis (27/1).
Wednesday, 26 January 2011
Asing Kembali Lirik Market
Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) dua kali beruntun bergerak di zona hijau. Hal serupa sepertinya akan tersaji pada perdagangan hari ini. Karena itu, reboundnya indeks tersebut diprediksi akan berlanjut. Kepercayaan investor pun perlahan namun pasti sudah mulai menunjukkan tanda-tanda membaik. "Kalau saya lihat indeks sepanjang pekan ini akan menunjukkan keperkasaannya. Kekhawatiran investor mulai tereduksi," tutur Gema Merdeka Goeyardi, Analis UOB Kay Hian Securities, ketika dihubungi di Jakarta, Rabu (26/1).
"Asing sudah mulai kembali melongok bursa. Kemungkinan untuk netbuy pada perdagangan hari ini cukup potensial. Selain itu, ada kemungkinan sisa dana Rights Issue Bank Mandiri (BMRI) masuk pada saham-saham unggulan," tambah Willy Sanjaya, Analis Lautandana Sekuritas kala dihubungi terpisah. Willy menilai, lonjakan harga komoditas dunia seperti timah juga akan menjadi sentimen positif. Dengan kemungkinan tersebut, investor akan mencoba saham-saham unggulan yang sudah mengalami terpaan
"Asing sudah mulai kembali melongok bursa. Kemungkinan untuk netbuy pada perdagangan hari ini cukup potensial. Selain itu, ada kemungkinan sisa dana Rights Issue Bank Mandiri (BMRI) masuk pada saham-saham unggulan," tambah Willy Sanjaya, Analis Lautandana Sekuritas kala dihubungi terpisah. Willy menilai, lonjakan harga komoditas dunia seperti timah juga akan menjadi sentimen positif. Dengan kemungkinan tersebut, investor akan mencoba saham-saham unggulan yang sudah mengalami terpaan
Saham Garuda Potensial Tidur Nyenyak
Saham perdana Initial Public Offering (IPO) PT Garuda Indonesia dibanderol pada level Rp 750. Penetapan tersebut mengundang spekulasi dikalangan pelaku pasar. Mereka menilai harga itu sebagai bentuk ketidakpercayaan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terhadap kinerja Garuda di lantai bursa. "Ini sebagai bentuk diskon dari pemerintah kepada masyarakat untuk mendapatkan harga murah. Selain itu, pasar sedang tidak bersahabat. Jadi, pemerintah tidak ngotot dengan patokan harga awal dikisaran Rp 1100," ungkap Pardomuan Sihombing, Kepala Riset Recapital Sekuritas ketika dihubungi di Jakarta, Rabu (26/1).
Keputusan pemerintah itu sambung Pardomuan sudah sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Pasalnya, banderol harga itu selain tergolong murah masih berada di bawah rata-rata perusahaan airlines regional. Merujuk pada EV/EBITDA industri perusahaan sejenis, saham IPO Garuda sangat potensial dan menjanjikan keuntungan berlipat. "Pastinya, investor senang dengan keputusan pemerintah itu. Saya juga merekomendasikan investor untuk mengoleksinya,” ungkapnya.
Keputusan pemerintah itu sambung Pardomuan sudah sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Pasalnya, banderol harga itu selain tergolong murah masih berada di bawah rata-rata perusahaan airlines regional. Merujuk pada EV/EBITDA industri perusahaan sejenis, saham IPO Garuda sangat potensial dan menjanjikan keuntungan berlipat. "Pastinya, investor senang dengan keputusan pemerintah itu. Saya juga merekomendasikan investor untuk mengoleksinya,” ungkapnya.
Tuesday, 25 January 2011
Tak Garansi Investor Melantai
Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi tidak banyak bergerak. Koreksi diprediksi masih membayangi indeks dalam beberapa hari ke depan. Penguatan indeks kemarin juga bukan jaminan indeks kembali pada jalur positif. "Saya rasa indeks minus satu persen dari penutupan hari ini," ungkap Viviet S Putri, Analis Anugerah Securindo Indah, ketika dihubungi di Jakarta, Selasa (25/1).
Viviet menyebutkan, rebound yang mendera indeks kemarin bersifat teknikal. Di mana dalam jangka pendek tidak bisa dijadikan jujukan dan garansi bagi investor untuk kembali masuk pasar. Sebab, secara teknikal belum ada sentimen positif yang berpihak pada indeks. "Itu belum bisa memberi kepastian pelaku pasar," ucap Viviet.
Viviet menyebutkan, rebound yang mendera indeks kemarin bersifat teknikal. Di mana dalam jangka pendek tidak bisa dijadikan jujukan dan garansi bagi investor untuk kembali masuk pasar. Sebab, secara teknikal belum ada sentimen positif yang berpihak pada indeks. "Itu belum bisa memberi kepastian pelaku pasar," ucap Viviet.
Kurang Seksi, Investor Asing Tak Lirik Saham Garuda
Penetapan harga saham perdana (Initial Public Offering/IPO) PT Garuda Indonesia bakal diputuskan hari ini. Tetapi, yang jelas banderol harga yang dimunculkan bakal berhadapan dengan kondisi pasar yang sedang labil. Meki begitu, mnajemen tetap menginginkan harga tertinggi dikisaran Rp 1100.
Spekulasipun merebak kalau harga IPO Garuda itu tergolong mahal. Sebab, merujuk rentang harga yang dijajakan kepada investor antara Rp 750-1100, mendapat banyak keluhan. Sejumlah analispun mengungkap harga ideal IPO Garuda adalah dikisaran Rp 850-900. Itu sejalan dengan kondisi Price Earning Ratio (PER) 13x macam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). "Kalau saya melihatnya harga termantap di level Rp 850. Itu mengacu pada kondisi pasar yang sedang tidak menentu," ungkap Billy Budiman, Head Of Tecnical Analyst PT Batavia Prosperindo Sekuritas, ketika dihubungi di Jakarta, Selasa (25/1).
Spekulasipun merebak kalau harga IPO Garuda itu tergolong mahal. Sebab, merujuk rentang harga yang dijajakan kepada investor antara Rp 750-1100, mendapat banyak keluhan. Sejumlah analispun mengungkap harga ideal IPO Garuda adalah dikisaran Rp 850-900. Itu sejalan dengan kondisi Price Earning Ratio (PER) 13x macam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). "Kalau saya melihatnya harga termantap di level Rp 850. Itu mengacu pada kondisi pasar yang sedang tidak menentu," ungkap Billy Budiman, Head Of Tecnical Analyst PT Batavia Prosperindo Sekuritas, ketika dihubungi di Jakarta, Selasa (25/1).
Astra Sedaya Bidik Pembiayaan Rp 17 triliun
PT Astra Sedaya Finance membidik pembiayaan tumbuh 2,4 persen sepanjang 2011. Itu berarti target pembiayaan hanya akan bertengger di level Rp 17 triliun dibanding periode sama tahun lalu dikisaran Rp 16,6 triliun. Padahal, pertumbuhan pembiayaan perseroan sepanjang 2010 tercatat sebesar 38,33 persen dibanding 2009 dikisaran Rp 12 triliun.
Langkah itu klaim perseroan tergolong cukup moderat. Pengambilan keputusan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah. Tercatat ada beberapa kebijakan pemerintah seperti pembatasan subsidi bahan bakar premium dan ketentuan pajak progresif bagi yang memiliki lebih dari satu kendaraan bermotor.
Langkah itu klaim perseroan tergolong cukup moderat. Pengambilan keputusan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah. Tercatat ada beberapa kebijakan pemerintah seperti pembatasan subsidi bahan bakar premium dan ketentuan pajak progresif bagi yang memiliki lebih dari satu kendaraan bermotor.
Subscribe to:
Posts (Atom)