Pendaratan kurang mulus PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) tak menyurutkan perusahaan sejenis menuju lantai bursa efek indonesia (BEI). Buktinya, PT Indonesia Air Asia (IAA) bakal melakukan langkah serupa. IAA memantapkan diri melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) pada kuartal empat 2011.
Dalam hajatan itu, perseroan menargetkan meraup dana antara USD 150–200 juta. Dana hasil IPO itu akan digunakan untuk ekspansi. Diantaranya pembelian pesawat baru, memperkuat modal dan kegiatan operasional jangka panjang, meningkatkan modal kerja perusahaan, dan memberikan kesempatan bagi karyawan dan public untuk menjadi pemegang saham. ”Rencana ini sudah matang,” ujar Dharmadi, Direktur Utama IAA, di Jakarta, Kamis (3/3).
Saat ini IAA memiliki 20 pesawat mayoritas sewa dan sedang dalam tahap pembelian 5 pesawat baru mulai awal tahun 2011 ini. Dari 20 pesawat yang ada, 16 unit di antaranya jenis Airbus dan sisanya Boeing. Perseroan menargetkan 30 pesawat hingga 2015. ”Perseroan telah menunjuk lead underwriter atau penjamin emisi yaitu Credit Suisse dan CIMB Sekuritas untuk membantu dalam aksi perseroan ini,” imbuh Dharmadi.
Thursday, 3 March 2011
Tunggu Skema BI Rate
Indeks harga saham gabungan (IHSG) sukses parkir di zona hijau. Penguatan indeks itu sekaligus membalik prediksi analis yang menyebut indeks sepenuhnya berada di bawah kungkungan badai koreksi. Bahkan, rebound yang dialami indeks tersebut melebihi ekspektasi pelaku pasar setelah bertengger nyaris di atas level 3500.
Indeks pun diprediksi pada perdagangan hari ini digadang-gadang bakal mengulangi hal serupa. Peluang itu sangat terbuka menyusul sejumlah sentiment positif yang diramalkan bakal menyuburkan penguatan indeks. Salah satu sentiment terkuat adalah ekspektasi pengumuman suku bunga acuan (BI Rate) yang bakal dirilis hari ini. Ekspektasinya BI Rate sesuai dengan keinginan investor dan tidak kontraproduktif dangan fakta.
”Secara teknikal indeks masih akan melanjutkan penguatan. Itu menyusul sentiment positif yang masih memihak perjalanan indeks sepanjang perdagangan,” ungkap Jeff Tan, analis Sinarmas Securities, ketika dihubungi di Jakarta, Kamis (3/3).
Indeks pun diprediksi pada perdagangan hari ini digadang-gadang bakal mengulangi hal serupa. Peluang itu sangat terbuka menyusul sejumlah sentiment positif yang diramalkan bakal menyuburkan penguatan indeks. Salah satu sentiment terkuat adalah ekspektasi pengumuman suku bunga acuan (BI Rate) yang bakal dirilis hari ini. Ekspektasinya BI Rate sesuai dengan keinginan investor dan tidak kontraproduktif dangan fakta.
”Secara teknikal indeks masih akan melanjutkan penguatan. Itu menyusul sentiment positif yang masih memihak perjalanan indeks sepanjang perdagangan,” ungkap Jeff Tan, analis Sinarmas Securities, ketika dihubungi di Jakarta, Kamis (3/3).
Wednesday, 2 March 2011
Investor Tanggalkan Transaksi
Indeks harga saham gabungan (IHSG) terlempar dari level 3500. Itu terjadi setelah dalam perdagangan kemarin, investor secara bergelombang melenggang meninggalkan lantai bursa. Mereka memilih menahan diri sambil menunggu situasi normal. "Melihat gejala yang mencuat sepertinya investor disergap rasa cemas. Karena itu, kemungkinan besar indeks hari ini akan tetap melanjutkan koreksi," ungkap Billy Budiman, Head of Tecnical Analyst Prosperindo Sekuritas, ketika dihubungi di Jakarta, Rabu (2/3).
Billy menyebutkan pelemahan indeks itu terlihat dari performa sepanjang perdagangan kemarin yang berlangsung kurang meyakinkan. Efeknya, indeks tidak bisa mempertahankan rekor baru diangka 3500. Alih-alih melewati angka 3500, mengamankan posisi resistence di bawah level itu indeks tidak sukses. "Ini yang membuat investor pikir untuk kembali pasar," imbuh Billy.
Billy menyebutkan pelemahan indeks itu terlihat dari performa sepanjang perdagangan kemarin yang berlangsung kurang meyakinkan. Efeknya, indeks tidak bisa mempertahankan rekor baru diangka 3500. Alih-alih melewati angka 3500, mengamankan posisi resistence di bawah level itu indeks tidak sukses. "Ini yang membuat investor pikir untuk kembali pasar," imbuh Billy.
Bursa Opitimistis Kinerja Emiten Positif
Otoritas bursa mengklaim laporan keuangan emiten sepanjang 2010 bakal positif. Itu sejalan dengan kondisi perekonomian yang mengalami pertumbuhan secara signifikan. Dengan fakta itu, pihak bursa meramalkan kinerja emiten-emiten 2010 yang segera tuntas bulan ini akan lebih baik dibanding laporan keuangan 2009.
"Anda bisa melihat bagaimana Astra sukses mencetak sejarah dalam laporan keuangan 2010. Itu akan diikuti oleh emiten lain yang punya potensi sama,” ungkap Ito Warsito, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu (2/3).
Ito menjelaskan membaiknya kinerja laporan keuangan emiten memantik pertumbuhan pasar domestic. Itu terlihat dari kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mengalami apresiasi hingga 46 persen. Fakta itu sekaligus mementahkan ramalan yang menyebut kenaikan indeks bersifat 'bubble'. ”Fakta ini cukup jelas memberi gambaran kepada investor untuk memasuki pasar dalam negeri dengan mantap,” imbuh Ito.
"Anda bisa melihat bagaimana Astra sukses mencetak sejarah dalam laporan keuangan 2010. Itu akan diikuti oleh emiten lain yang punya potensi sama,” ungkap Ito Warsito, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu (2/3).
Ito menjelaskan membaiknya kinerja laporan keuangan emiten memantik pertumbuhan pasar domestic. Itu terlihat dari kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mengalami apresiasi hingga 46 persen. Fakta itu sekaligus mementahkan ramalan yang menyebut kenaikan indeks bersifat 'bubble'. ”Fakta ini cukup jelas memberi gambaran kepada investor untuk memasuki pasar dalam negeri dengan mantap,” imbuh Ito.
Investor Bingung Urus Saham Telantar
PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) mengantongi koleksi saham telantar sebesar 29,826 juta lembar atau 0,12 persen. Saham sebesar itu berarti 25,13 miliar lembar dari total saham yang ditempatkan dan disetor penuh. Dengan harga saham BNGA Rp 1.730 per lembar, maka total saham tak bertuan itu mencapai Rp 51,598 miliar.
Saham BNGA yang terlantar secara kepemilikan jumlahnya dominan, setara 6.779 pemilik (60,88 persen) dari total investor Bank CIMB Niaga yang tercatat, 11.135 pemilik. "Persoalan ini sejatinya tidak perlu terjadi kalau terjadi dialog antara pihak manajemen dengan pemegang saham. Kami sudah melakukan upaya untuk mengatasi itu, tetapi respon dari investor yang bersangkutan tidak sesuai ekspektasi,” ungkap Lydia Wulan Tumbelaka, Compliance, Corporate Affairs & legal Director Bank CIMB Niaga (BNGA), di Jakarta, Rabu (2/3).
Saham BNGA yang terlantar secara kepemilikan jumlahnya dominan, setara 6.779 pemilik (60,88 persen) dari total investor Bank CIMB Niaga yang tercatat, 11.135 pemilik. "Persoalan ini sejatinya tidak perlu terjadi kalau terjadi dialog antara pihak manajemen dengan pemegang saham. Kami sudah melakukan upaya untuk mengatasi itu, tetapi respon dari investor yang bersangkutan tidak sesuai ekspektasi,” ungkap Lydia Wulan Tumbelaka, Compliance, Corporate Affairs & legal Director Bank CIMB Niaga (BNGA), di Jakarta, Rabu (2/3).
Tuesday, 1 March 2011
Awas, Garuda Jatuh Kepangkuan Asing
Kinerja saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) terus melorot. Pada penutupan perdagangan kemarin kembali terkoreksi 10 poin (1,89 persen) ke posisi Rp 520. Itu artinya, hingga detik ini saham GIAA telah tergerus 30 persen sejak listing perdana pada harga Rp 750 per lembar awal Februari lalu.
Kondisi tersebut menyimpan bahaya. Salah satunya adalah rawan dikuasai asing. Itu terjadi apabila tidak ada aksi penyelamatan dari semua pihak. Asing akan masuk sebagai pengendali kalau saham GIAA terus terjun hingga ke titik terendah. ”Sedih saya membayangkannya kalau emiten BUMN jatuh ke pangkuan tangan asing. Ini harus ada skema penyelamatan,” ujar Faisal Basri lewat akun twitternya @faisalbasri belum lama ini.
Kondisi tersebut menyimpan bahaya. Salah satunya adalah rawan dikuasai asing. Itu terjadi apabila tidak ada aksi penyelamatan dari semua pihak. Asing akan masuk sebagai pengendali kalau saham GIAA terus terjun hingga ke titik terendah. ”Sedih saya membayangkannya kalau emiten BUMN jatuh ke pangkuan tangan asing. Ini harus ada skema penyelamatan,” ujar Faisal Basri lewat akun twitternya @faisalbasri belum lama ini.
Indika Caplok MBSS Pasca Listing
PT Indika Energy Tbk (INDY) dipastikan mencaplok PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS). Itu terjadi menyusul option agreement yang telah disepakati pada 26 November 2010 lalu. Merujuk perjanjian itu, INDY akan melakukan eksekusi 180 hari atau enam bulan pasca MBSS listing di lantai bursa efek Indonesia (BEI).
Berdasar option agreement itu, INDY menguasai dan membeli 51 persen saham milik PT Patin Resources, Patricia Pratiwi Suwati Prasatya, dan Ingrid Ade Sundari Prasatya. Pembelian dilakukan melalui eksekusi hak (opsi beli), Indika akan membeli saham pada harga 5 persen lebih tinggi atau rendah dari harga perdana saham (IPO) MBSS. ”Perjanjiannya telah ditandatangani. Saat ini kami sedang fokus IPO,” ucap Patricia Pratiwi Suwati Prasatya, Direktur Utama MBSS, di Jakarta, Selasa (1/3).
Patricia menambahkan, membeli saham milik Patin Resources sebanyak 981,265 juta lembar. Indika juga membeli saham milik Patricia Pratiwi Suwati Prasatya dan dan Ingrid Ade Sundari Prasatya punya masing-masing 275 juta lembar. "Ini menjadi petanda baik bagi kelangsungan perusahaan ke depan. Apalagi tantangannya tidak ringan pasca listing,” tukasnya.
Berdasar option agreement itu, INDY menguasai dan membeli 51 persen saham milik PT Patin Resources, Patricia Pratiwi Suwati Prasatya, dan Ingrid Ade Sundari Prasatya. Pembelian dilakukan melalui eksekusi hak (opsi beli), Indika akan membeli saham pada harga 5 persen lebih tinggi atau rendah dari harga perdana saham (IPO) MBSS. ”Perjanjiannya telah ditandatangani. Saat ini kami sedang fokus IPO,” ucap Patricia Pratiwi Suwati Prasatya, Direktur Utama MBSS, di Jakarta, Selasa (1/3).
Patricia menambahkan, membeli saham milik Patin Resources sebanyak 981,265 juta lembar. Indika juga membeli saham milik Patricia Pratiwi Suwati Prasatya dan dan Ingrid Ade Sundari Prasatya punya masing-masing 275 juta lembar. "Ini menjadi petanda baik bagi kelangsungan perusahaan ke depan. Apalagi tantangannya tidak ringan pasca listing,” tukasnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)