Sunday, 6 February 2011

META Maksimalkan Jaringan Tol Lama

PT Nusantara Infrastruktur Tbk (META) akan memaksimalkan sejumlah ruas tol guna menggenjot kinerjanya. Ruas tol itu macam Jakarta-Bumi Serpog Damai (BSD) sepanjang 7,25 km, Bosowa-Makasar (BNM) sepanjang 5,95 km, ruas tol sesi IV (JTSE) sepanjang 11,7 km dan ruas tol Bandara Seksi IV Makassar (11.57km). ”Ya, itu kita maksimalkan sebagai opsi utama dalam mempercantik kinerja,” ungkap Danny Hasan, Direktur Keuangan META, baru-baru ini di Jakarta.
Belum lama ini, META juga mengakuisisi 3.129 saham Margautama Nusantara seniIai Rp 245 miliar. Margautama adalah pemegang 25 persen saham PT Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB). Sedangkan JLB merupakan operator ruas jalan tol W1 Kebon Jeruk-Penjaringan, Jakarta. Dari ruas-ruas tol itu, diharapkan bisa memberikan traffic pengguna jalan sebanyak 70-80 juta kendaraan tahun ini. Jumlah itu meningkat 6-21 persen dari jumlah traffic tahun lalu sebanyak 66 juta kendaraan.

BI Rate Cenderung Mengkhawatirkan

Pelaku pasar boleh sedikit bernapas lega dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) mencuatkan suku bunga 25 basis points (bps). Dengan skema baru suku bunga acuan (BI Rate) bertengger di level 6,75 persen memantik optimisme baru sekaligus bayang-bayang keraguan. Investor dalam jangka pendek memandang positif tetapi dari sisi jangka panjang masih menyimpan tanda tanya besar.
memang betul kala pengumuman BI Rate dimunculkan pasar langsung bereaksi positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mendekam di zona merah langsung rebound. Investor secara reaktif merespon kenaikan tersebut dengan segera melakukan akumulasi portofolio saham.
"Itu kan hanya respon dalam skala terbatas dan jangka pendek. Tidak ada yang bisa diharapkan dari situasi demikian," ungkap Pardomuan Sihombing, Kepala Riset Recapital, ketika dihubungi akhir pekan lalu.

Manajemen GIA Panik, Joki IPO Bergentayangan

Aroma tidak sedap yang menyelimuti penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) PT Garuda Indonesia Airlines (GIA) terus menyeruak. Itu menyusul praktik perjokian saham perdana perseroan dikalangan pelaku pasar juga semakin gencar. Tawaran lewat jalan tikus tersebut semakin intens dilakukan menyusul mipetnya waktu pencatatan saham (Listing).
Guna memuluskan langkahnya itu, joki saham perdana Garuda tidak kehabisan akal. Mereka menebar saham perdana dengan harga lebih murah dari harga yang ditawakan kepada investor. Saham perdana Garuda Indonesia (GRDA) oleh para joki dibanderol dengan harga dikisaran Rp 730 pada grey market, lebih rendah Rp 20 (2,66 persen) dari harga IPO Rp 750 per saham.

Friday, 4 February 2011

Saham Astra Melompat Tajam

PT Astratel Nusantara, anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) dikabarkan tengah melakukan due diligence meeting dengan PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS). Itu dilakukan sejalan dengan rumor bakal masuknya Astra sebagai pengendali dalam jejaring Radian.
Astra International masuk lewat payung Astratel. Astratel berencana masuk menjadi pengendali baru RUIS melalui rencana rights issue senilai USD 25 juta. Astratel akan tampil sebagai pembeli siaga (standby buyer).
RUIS merupakan perusahaan yang bergerak di sektor jasa migas dan tengah menggarap proyek blok migas di Bukit Barisan. Astratel yang tengah melakukan ekspansi ke sektor energi mengincar proyek tersebut. Usai rights issue, Astratel akan menguasai 60 persen saham RUIS, Value Monetization 6 persen, Radiant Nusa Investama 23,72 persen dan publik 8,78 persen.

Euforia Sesaat Landa Investor

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan tak berkutik dari zona merah. Posisi itu berbalik setelah pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menanjak 25 basis points (bps) ke level 6,75 persen. Indeks pun sukses menyudahi akhir pekan di areal positif di tengah arus liburan Imlek. ”Ada harapan pelaku pasar atas naiknya suku bunga acuan akan yield yang lebih besar. Makanya, aski beli langsung melambungkan indeks,” tukas David Samual, analis pasar modal ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (4/2).
David menambahkan, dengan naiknya BI rate diharapkan pemerintah juga dapat mengontrol inflasi agar tidak bergerak liar. Investor berharap pemerintah menyiapkan langkah-langkah taktis dalam menangkal inflasi pada bulan-bulan mendatang. Itu penting agar tingkat risiko investasi relatif aman. ”Selanjutnya, aksi pemerintah melokalisir liarnya laju inflasi,” imbuhnya.

Investor Pemula Perburuk Citra Garuda

Investor kawakan memang tidak tertarik dengan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) PT Garuda Indonesia Airlines (GIA). Ini bertolak belakang dengan tradisi perusahaan pelat merah yang selalu berkinerja baik. Kondisi ini akan memperburuk citra Garuda sebagai perusahaan kelas A.
”Ya, ini tentu akan mencitrakan negatif langkah Garuda menuju lantai bursa. Apalagi, jejak rekam perseroan tidak meyakinkan di mata investor,” jelas Nico J Omer, Vice President Valburry Securities, ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (4/2).
Nico menyebutkan, penyerapan investor pemula pada saham perdana Garuda bukan pertanda baik. Itu justru menstigma perusahaan berlabel Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kurang baik dimata masyarakat luas terutama investor asing. ”Makanya, investor asing tidak masuk karena kondisinya tidak menjanjikan. Pola investor asing dengan gaya investasi jangka panjang, tidak berani berspekulasi dengan saham Garuda,” imbuhnya.

Wednesday, 2 February 2011

Investor Lokal Apatis Sambut Saham Garuda

Proses penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) yang dibanderol Rp 750 per lembar saham berlangsung monoton. Investor ritel yang mempunyai kesempatan mengoleksi saham perseroan tidak terlihat. Mereka apatis dan kehilangan daya tarik untuk menyerap saham perseroan yang diklaim manajemen murah. Ini kontraproduktif bila dibanding dengan jalannya proses IPO Kraktau Steel (KS) yang begitu dijejali investor.
Kondisi tersebut sebenarnya bukan hal aneh. Jauh hari sebelum digeber masa penawaran, tanda-tandanya sudat terlihat. Mulai proses bookbuilding (pembentukan harga awal), public expose, penetapan harga final yang tertunda dan proses roadshow yang terkesan asal-asalan. Situasi itu semakin parah menyusul memburuknya global market yang tidak mendukung hajatan IPO Garuda menuju lantai bursa.