PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) memperoleh fasilitas pinjaman intraday Rp 300 miliar. Fasilitas pinjaman itu diperoleh dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) selaku Bank Pembayaran. Dengan tambahan itu, maka total pinjaman fasilitas intraday yang diperoleh KPEI adalah Rp 1,79 triliun. ”Ini akan mendukung implementasi penyelesaian transaksi bursa melalui metode continuous settlement,” ungkap Hoesen, Direktur Utama KPEI, di Jakarta, Jumat (11/3).
Hoesen menyebutkan fasilitas intraday itu dipakai untuk mendukung penerapan penyelesaian transaksi bursa melalui metode continuous settlement. Sebab, sebelum adanya metode continuous settlement proses penyelesaian dilakukan dalam dua batch (tahap, Red) yaitu morning settlement dan afternoon settlement. ”Dengan metode continuos settlement proses morning settlement bisa dilakukan dalam beberapa tahap secara otomasti dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Friday, 11 March 2011
SMGR Tingkatkan Kapasitas Produksi 30 Juta ton
PT Semen Gresik Tbk (SMGR) membutuhkan dana sekitar USD 3 miliar untuk mencapai kapasitas 30 juta ton hingga 2015. Dana tersebut akan dipakai untuk membangun pabrik di Sumatera dan Wilayah Pulau Jawa. Dengan penambahan pabrik baru itu, nantinya secara bertahap perseroan juga akan meningkatkan kapasitas produksi.
”itu sesuai dengan rencana jangka panjang perseroan dalam meningkatkan kapasitas produksi hingga ke level 30 juta ton,” ungkap Dwi Sutjipto, President Direktur Semen Gresik Tbk (SMGR) di Jakarta, Jumat (11/3).
Dwi menyebutkan penambahan kapasitas produksi secara bertahap itu, dengan menambah kapasitas 1,5 juta ton pada 2011. Dengan skeman itu, pada 2011 target kapasitas produksi sebanyak 20 juta ton akan tercapai. Selanjutnya, pada 2012 perseroan menargetkan kapasitas produksi mencapai 24 juta ton.
”itu sesuai dengan rencana jangka panjang perseroan dalam meningkatkan kapasitas produksi hingga ke level 30 juta ton,” ungkap Dwi Sutjipto, President Direktur Semen Gresik Tbk (SMGR) di Jakarta, Jumat (11/3).
Dwi menyebutkan penambahan kapasitas produksi secara bertahap itu, dengan menambah kapasitas 1,5 juta ton pada 2011. Dengan skeman itu, pada 2011 target kapasitas produksi sebanyak 20 juta ton akan tercapai. Selanjutnya, pada 2012 perseroan menargetkan kapasitas produksi mencapai 24 juta ton.
Gempa Jepang Perburuk Market
Koreksi indeks harga saham gabungan (IHSG) benar-benar tak tertahankan. Sejak perdagangan di buka, indeks langsung diterpa aksi profit taking. Itu terjadi menyusul memburuknya bursa global terutama indeks Dow Jones setelah rilis angka pengangguran membengkak.
Ketika indeks mencoba bergerak stabil, sentiment lebih dahsyat mencuat dari daratan negeri Matahari Terbit, Jepang. Negeri kaisar tersebut disapu Gempa bumi 8,9 skala richter (SR) dan segera direspon pasar secara negatif. Indeks Nikkei langsung anjlok dan menjalar secara luas pada bursa-bursa utama regional dan global. ”Double effect saya kira untuk menyebut kondisi pasar kemarin. Investor yang sudah memprediksi indeks tergerus ditambah lagi dengan gempa bumi yang disusul bencana Tsunami,” ungkap Purwoko Sartono, Research Analyst, Panin Sekuritas, ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (11/3).
Ketika indeks mencoba bergerak stabil, sentiment lebih dahsyat mencuat dari daratan negeri Matahari Terbit, Jepang. Negeri kaisar tersebut disapu Gempa bumi 8,9 skala richter (SR) dan segera direspon pasar secara negatif. Indeks Nikkei langsung anjlok dan menjalar secara luas pada bursa-bursa utama regional dan global. ”Double effect saya kira untuk menyebut kondisi pasar kemarin. Investor yang sudah memprediksi indeks tergerus ditambah lagi dengan gempa bumi yang disusul bencana Tsunami,” ungkap Purwoko Sartono, Research Analyst, Panin Sekuritas, ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (11/3).
Thursday, 10 March 2011
Group Djarum Cengkram BCA Erat-erat
Performa saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terus menggeliat. Dalam beberapa pekan terakhir penguatan saham salah satu perbankan terbesar itu sangat menggoda investor. Tak ayal, saham perseroan menjadi prioritas utama pelaku pasar untuk dijadikan objek koleksi.
Di sisi lain, kinerja saham perseroan yang dahsyat tersebut didukung manajemen yang sangat rapi. Kondisi ini membuat investor yang rata-rata pelaku pasar asing percaya penuh dengan kinerja BCA. Mereka sepnuhnya percaya kalau BCA bakal memberikan imbal hasil sesuai dengan ekspektasi. Dan, kepercayaan investor ternyata dijawab cukup elegan oleh manajemen.
Dari sisi kapitalisasi pasar misalnya, perseroan telah menunjukkan diri dengan menyalip PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) pada urutan kedua dalam kapitalisasi pasar saham terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) per Februari 2011. Urutan pertama masih milik PT Astra International Tbk (ASII).
Di sisi lain, kinerja saham perseroan yang dahsyat tersebut didukung manajemen yang sangat rapi. Kondisi ini membuat investor yang rata-rata pelaku pasar asing percaya penuh dengan kinerja BCA. Mereka sepnuhnya percaya kalau BCA bakal memberikan imbal hasil sesuai dengan ekspektasi. Dan, kepercayaan investor ternyata dijawab cukup elegan oleh manajemen.
Dari sisi kapitalisasi pasar misalnya, perseroan telah menunjukkan diri dengan menyalip PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) pada urutan kedua dalam kapitalisasi pasar saham terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) per Februari 2011. Urutan pertama masih milik PT Astra International Tbk (ASII).
Badai Koreksi Bayangi Indeks
Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi belum beranjak dari bayang-bayang badai koreksi. Fluktuasi market yang mulai menyergap indeks rupanya menjadi hantu menakutkan pelaku pasar. Di samping itu, sejumlah valuasi harga sejumlah emiten mulai memasuki jenuh beli. "Indeks akan mengulasi gerakan serupa. Pasar masih bergerak tidak pasti sejalan situasi market global yang mulai labil," tukas Billy Budiman, Head of Tecnical Analyst PT Batavia Prosperindo Securities, ketika dihubungi di Jakarta, Kamis (10/3).
Aksi profit taking diprediksi juga masih akan berlanjut. Investor mulai skeptis dengan gejolak yang melanda Timur Tengah (Timteng). Pasang surut gejolak politik di Timteng itu memengaruhi psikologi investor untuk melanjutkan koleksi pada sejumlah saham. Mereka mengambil keputusan tepat dengan melakukan aksi jual sambil menunggu stabilitas market global. "Aksi jual masih tetap akan terjadi. Investor khawatir karena pola pasar cenderung menurun," imbuhnya.
Aksi profit taking diprediksi juga masih akan berlanjut. Investor mulai skeptis dengan gejolak yang melanda Timur Tengah (Timteng). Pasang surut gejolak politik di Timteng itu memengaruhi psikologi investor untuk melanjutkan koleksi pada sejumlah saham. Mereka mengambil keputusan tepat dengan melakukan aksi jual sambil menunggu stabilitas market global. "Aksi jual masih tetap akan terjadi. Investor khawatir karena pola pasar cenderung menurun," imbuhnya.
PGN Percepat Pelunasan Utang USD 246,5 Juta
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) telah melakukan pelunasan utang sebelum masa jatuh tempo (voluntary prepayment) senilai USD 246,5 juta. Pelunasan itu dilakukan setelah mengantongi sindikasi perbankan yang dipimpin Standard Chartered Bank (SCB). Sejatinya, jatuh tempo utang itu terjadi pada 9 Desember 2012 mendatang.
Total pelunasan pinjaman sebesar USD 246,5 juta terdiri dari pembayaran bunga pinjaman sebesar USD 2,079 juta (untuk periode bunga 9 Desember 2010 – 9 Maret 2011) dan sisa pinjaman pokok sebesar USD 244,444 juta. Perseroan dan SCB menandatangani perjanjian Syndication Loan Agreement (SLA) sebesar USD 275 juta pada 25 November 2009 dengan bunga 3,1 persen per tahun plus LIBOR 3 bulan dan tenor selama tiga tahun. Sebanyak 19 bank domestik dan internasional tergabung dalam program sindikasi tersebut. "Sesuai dengan persyaratan perjanjian, kami dapat melakukan voluntary prepayment," ungkap Wahid Sutopo, Sekretaris Perusahaan PGAS di Jakarta, Kamis (10/3).
Total pelunasan pinjaman sebesar USD 246,5 juta terdiri dari pembayaran bunga pinjaman sebesar USD 2,079 juta (untuk periode bunga 9 Desember 2010 – 9 Maret 2011) dan sisa pinjaman pokok sebesar USD 244,444 juta. Perseroan dan SCB menandatangani perjanjian Syndication Loan Agreement (SLA) sebesar USD 275 juta pada 25 November 2009 dengan bunga 3,1 persen per tahun plus LIBOR 3 bulan dan tenor selama tiga tahun. Sebanyak 19 bank domestik dan internasional tergabung dalam program sindikasi tersebut. "Sesuai dengan persyaratan perjanjian, kami dapat melakukan voluntary prepayment," ungkap Wahid Sutopo, Sekretaris Perusahaan PGAS di Jakarta, Kamis (10/3).
PTBA Tak Butuh Pinjaman Perbankan
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan volume penjualan sebesar 16,8 juta ton sepanjang 2011. Kondisi itu mengalami lonjakan proyeksi 23 persen dibanding edisi sebelumnya. Perseroan mengklaim, kondisi tersebut akan tercapai sealur dengan rencana peningkatan volume angkutan Kereta api (KA) dan produksi tambang. ”Ya, proyek kami sedang digarap. Kemungkinan untuk menambah volume tersebut sangat terbuka,” ungkap Sukrisno, President Direktur PTBA di Jakarta, Kamis (10/3).
Di samping itu, perseroan juga telah menandatangani kerjasama dengan PT Indonesia Power untuk PLTU Suralaya, serta PT PLN untuk pasokan PLTU Bukit Asam dan PLTU Tarahan. Total volume pasokan batubara ke PLTU Bukit Asam direncanakan sebesar 1,0 juta ton dengan harga Rp 575 ribu per ton pada kalori 5 ribu kcal per kilogram. Sementara untuk pasokan ke PLTU Tarahan sebesar 0,7 juta ton pada harga Rp 729,325 per ton. ”Kami juga telah menyepakati harga jual untuk kontrak tambahan dengan pihak PT PLN volume 1 juta ton per tahun,” imbuh Sukrisno.
Di samping itu, perseroan juga telah menandatangani kerjasama dengan PT Indonesia Power untuk PLTU Suralaya, serta PT PLN untuk pasokan PLTU Bukit Asam dan PLTU Tarahan. Total volume pasokan batubara ke PLTU Bukit Asam direncanakan sebesar 1,0 juta ton dengan harga Rp 575 ribu per ton pada kalori 5 ribu kcal per kilogram. Sementara untuk pasokan ke PLTU Tarahan sebesar 0,7 juta ton pada harga Rp 729,325 per ton. ”Kami juga telah menyepakati harga jual untuk kontrak tambahan dengan pihak PT PLN volume 1 juta ton per tahun,” imbuh Sukrisno.
Subscribe to:
Posts (Atom)