Prospek ekonomi dunia pada masa mendatang tetap disokong kalangan negara-negara berkembang (emerging market). Fluktuasi ekonomi global yang terjadi belakangan ini membawa dampak signifikan bagi kolapnya ekonomi negara-negara maju. Karena itu, sejumlah negara maju yang terpuruk tersebut masih disibukkan dengan recoverry.
Di samping itu, saat ini muncul kekhawatiran baru dengan kemunculan China sebagai raksasa ekonomi. Sejumlah pengamat menilai China yang digadang-gadang sebagai tulang punggung atas keterpurukan ekonomi global berada di gerbang bubble (gelembung) yang sewaktu-waktu meledak. Artinya, dalam jangka pendek situasi China belum aman untuk ladang investasi. "Baik China dan India sudah tidak menguntungkan untuk investasi. Saat ini suku bunga dan inflasi pada kedua negara itu sudah sedemikian rupa tinggi. Efeknya, investor mulai menghitung ulang untuk mencari negara yang bisa memberi keuntungan investasi lebih besar," ungkap Michael Tjaojadi, Direktur Utama Schroder Invesment di Jakarta, belum lama ini.
Tuesday, 7 December 2010
Sinarmas Perkuat Network FREN
Rencana Group Sinarmas mengambil alih PT Mobil-8 Tbk (FREN) dinilai kurang menguntungkan. Pasalnya, FREN terbelit utang besar dan berkinerja buruk. Bahkan, hingga detik ini saham FREN masih belum keluar dari deraan suspen otoritas bursa efek Indonesia. ”FREN perusahaan bangkrut. Saya rasa Sinarmas tidak akan gegabah sebelum mengambil keputusan masuk dalam lingkaran FREN,” ungkap Nico J Omer, analis Valbury Securities, ketika ditemui di Gedung Bursa Jakarta, beberapa waktu lalu.
Rumor bakal masuknya sinarmas tersebut sebenarnya telah lama. Tetapi, sebut Nico setelah pihak Sinarmas mengetahui kondisi internal FREN, mereka menuntut adanya suatu syarat sebelum aksi korporasi tersebut dilakukan. Salah satunya adalah utang FREN terlebih dahulu harus masuk dalam bentuk saham. ”Inilah kejelian manajemen Sinarmas. Sebab, kalau langsung mengambilalih maka secara otomatis seluruh hutang FREN menjadi tanggungan Sinarmas. Dan, kalau itu terjadi bukan untung yang didapat tetapi malah buntung,” imbuh Nico.
Rumor bakal masuknya sinarmas tersebut sebenarnya telah lama. Tetapi, sebut Nico setelah pihak Sinarmas mengetahui kondisi internal FREN, mereka menuntut adanya suatu syarat sebelum aksi korporasi tersebut dilakukan. Salah satunya adalah utang FREN terlebih dahulu harus masuk dalam bentuk saham. ”Inilah kejelian manajemen Sinarmas. Sebab, kalau langsung mengambilalih maka secara otomatis seluruh hutang FREN menjadi tanggungan Sinarmas. Dan, kalau itu terjadi bukan untung yang didapat tetapi malah buntung,” imbuh Nico.
Sinarmas Incar Network FREN
Rencana Group Sinarmas mengambil alih PT Mobil-8 Tbk (FREN) dinilai kurang menguntungkan. Pasalnya, FREN terbelit utang besar dan berkinerja buruk. Bahkan, hingga detik ini saham FREN masih belum keluar dari deraan suspen otoritas bursa efek Indonesia. ”FREN perusahaan bangkrut. Saya rasa Sinarmas tidak akan gegabah sebelum mengambil keputusan masuk dalam lingkaran FREN,” ungkap Nico J Omer, analis Valbury Securities, ketika ditemui di Gedung Bursa Jakarta, beberapa waktu lalu.
Rumor bakal masuknya sinarmas tersebut sebenarnya telah lama. Tetapi, sebut Nico setelah pihak Sinarmas mengetahui kondisi internal FREN, mereka menuntut adanya suatu syarat sebelum aksi korporasi tersebut dilakukan. Salah satunya adalah utang FREN terlebih dahulu harus masuk dalam bentuk saham. ”Inilah kejelian manajemen Sinarmas. Sebab, kalau langsung mengambilalih maka secara otomatis seluruh hutang FREN menjadi tanggungan Sinarmas. Dan, kalau itu terjadi bukan untung yang didapat tetapi malah buntung,” imbuh Nico.
Rumor bakal masuknya sinarmas tersebut sebenarnya telah lama. Tetapi, sebut Nico setelah pihak Sinarmas mengetahui kondisi internal FREN, mereka menuntut adanya suatu syarat sebelum aksi korporasi tersebut dilakukan. Salah satunya adalah utang FREN terlebih dahulu harus masuk dalam bentuk saham. ”Inilah kejelian manajemen Sinarmas. Sebab, kalau langsung mengambilalih maka secara otomatis seluruh hutang FREN menjadi tanggungan Sinarmas. Dan, kalau itu terjadi bukan untung yang didapat tetapi malah buntung,” imbuh Nico.
BRMS the Next Saham Sejuta Umat
Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengalami kelebihan permintaan (oversubscribe) sebanyak 29,89 kali. Kelebihan itu membuktikan kehadiran perseroan di lantai bursa bakal mendapat sambutan positif pelaku pasar. Tidak hanya itu, saham perseroan disebut-sebut sebagai the next saham sejuta umat, mengikuti jejak induk usahanya PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Saham perdana BRMS yang dibanderol Rp 635 itu, dalam durasi 3 hari tercatat diburu oleh lebih dari 2,200 investor publik. "Kami tentu bangga dengan antusiasme investor terhadap saham BRMS. Ini akan menambah spirit manajemen untuk bekerja taktis dan strategis," ungkap Vicky Ganda Saputra, Executive Director of Investment Bank PT Danatama Makmur sebagai lead underwriter pelaksanaan Go Public BRMS, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Saham perdana BRMS yang dibanderol Rp 635 itu, dalam durasi 3 hari tercatat diburu oleh lebih dari 2,200 investor publik. "Kami tentu bangga dengan antusiasme investor terhadap saham BRMS. Ini akan menambah spirit manajemen untuk bekerja taktis dan strategis," ungkap Vicky Ganda Saputra, Executive Director of Investment Bank PT Danatama Makmur sebagai lead underwriter pelaksanaan Go Public BRMS, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Bank Sinarmas Ramaikan Lantai Bursa
PT Bank Sinarmas akan mencatatkan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) pada Senin (13/12) mendatang. Dalam hajatan itu, perseroan bakal melepas 1,6 miliar saham atau 21,97 persen. Dengan banderol Rp 150 dan nominal Rp 100 per lembar saham, perseroan bakal meraup dana IPO sebesar Rp 240 miliar.
Dalam perspektus perseroan juga disebutkan dana hasil IPO akan dipakai untuk ekspansi perseroan. Diantaranya adalah untuk memperkuat di sektor kredit. Maklum, berdasar ramalan sejumlah analis pada tahun mendatang potensi perbankan untuk berkibar sangat terbuka. ”Sektor perbankan masih sangat potensial ke depan,” tandas Edwin Sebayang, analis Bhakti Secuties, belum lama ini.
Dalam perspektus perseroan juga disebutkan dana hasil IPO akan dipakai untuk ekspansi perseroan. Diantaranya adalah untuk memperkuat di sektor kredit. Maklum, berdasar ramalan sejumlah analis pada tahun mendatang potensi perbankan untuk berkibar sangat terbuka. ”Sektor perbankan masih sangat potensial ke depan,” tandas Edwin Sebayang, analis Bhakti Secuties, belum lama ini.
BSDE Menjelma Sebagai Raksasa Properti
Prospek dunia properti pada masa mendatang diprediksi makin cemerlang. Itu sejalan dengan regulasi kepemilikan asing yang terus dipertegas. Karena itu, sejumlah perusahaan yang bergulat dalam urusan perumahan bakal meraup untung besar.
"Saya rasa properti masih bagus ke depan. Siapa yang tidak butuh tempat tinggal. Sepanjang manusia hidup kebutuhan akan hunian yang asri tidak akan pernah ada matinya," ungkap Nico J Omer, Vice President Valbury Securities, di Gedung Bursa Jakarta, belum lama ini.
Nico menyebutkan salah satu perusahaan properti yang bakal tumbuh pesat adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). Penguasa properti di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tersebut dinilai paling siap. Itu bukan saja karena baru saja menuntaskan akuisisi saham PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) senilai Rp 3,472 triliun. Tetapi lebih disebabkan oleh kepercayaan dan pengalaman perseroan dalam mengelola dunia properti. "Secara manajerial BSDE tidak perlu diragukan. Mereka sangat berpengalaman dalam menghadirkan hunian berkelas," tandas Nico.
"Saya rasa properti masih bagus ke depan. Siapa yang tidak butuh tempat tinggal. Sepanjang manusia hidup kebutuhan akan hunian yang asri tidak akan pernah ada matinya," ungkap Nico J Omer, Vice President Valbury Securities, di Gedung Bursa Jakarta, belum lama ini.
Nico menyebutkan salah satu perusahaan properti yang bakal tumbuh pesat adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). Penguasa properti di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tersebut dinilai paling siap. Itu bukan saja karena baru saja menuntaskan akuisisi saham PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) senilai Rp 3,472 triliun. Tetapi lebih disebabkan oleh kepercayaan dan pengalaman perseroan dalam mengelola dunia properti. "Secara manajerial BSDE tidak perlu diragukan. Mereka sangat berpengalaman dalam menghadirkan hunian berkelas," tandas Nico.
Sarankan Bapepam-LK Buka Data Mencurigaka
Tim Pengawas Independen penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), mendukung penutupan data rekening efek kepada publik. Itu dilakukan dengan misi utama menyelamatkan dan menciptakan kepercayaan investor. Sebab, situasi pasar modal telah menunjukkan perkembangan positif. "Jadi begini, kalau mau menangkap tikus, jangan yang diobok-obok lumbungnya. Tangkap saja oknumnya tanpa merusak pasar modal yang sudah di bangun dengan susap payah," tutur Mas Achmad Daniri, Ketua Tim Pengawas Independen pelaksana IPO KRAS, di Jakarta, Senin malam (6/12) lalu setelah dialog Mengungkap Fakta di Balik IPO KRAS.
Subscribe to:
Posts (Atom)