Thursday, 28 April 2011

Bapepam Belum Rancang Sanksi


Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) memilih opsi menunggu kelanjutan kasus pembobolan deposito Elnusa yang ditempatkan di Bank Mega. Itu dilakukan menyusul kasus tersebut tengah diperiksa aparat ke polisian. ”Kita tunggu hasil pemeriksaan kepolisian. Aparat tengah mendalami kasus itu hingga tuntas,” tutur Nurhaida, Ketua Bapepam-LK di Jakarta, Kamis (28/4).
Selain itu, Bapepam juga tidak akan melakukan pemanggilan kepada Bank Mega (MEGA) selaku emiten, terkait penggelapan dana deposito Elnusa ELSA sindikat senilai Rp 111 miliar. Sebagai gantinya, Bapepam hanya menantikan hasil pemeriksaan kepolisian. ”Skema sanksi bisa kita jatuhkan kalau hasil pemeriksaan kepolisian sudha rampung,” ulasnya.

Tuesday, 26 April 2011

Metland Bangun Condotel Rp 88 Miliar


PT Metropolitan Land bakal membangun hunian berbintang tiga di Seminyak, Bali. Hotel Horison yang dibangun di tengah keramaian wisata pantai double six itu diklaim sangat ditunggu-tunggu konsumen. Karena itu, perseroan telah menyiapkan dana segar senilai Rp 88 miliar guna memuluskan rencana besar tersebut. ”Sumber pendanaan kami ambil dari hasil Initial Public Offering (IPO) yang dilakukan dalam waktu dekat,” ungkap Wahyu Sulistio, General Manager Corporate Communication Metland, di Jakarta, Selasa (26/4).
Harga kondotel seminyak dibanderol mulai dari Rp 600 jutaan. Dengan harga itu, pengembang memberikan income guarantee sebesar 24 persen untuk masa 3 tahun pertama sejak masa operasional. Selain Hotel Horison Seminyak, pada 2011 Metropolitan Land memiliki enam proyek baru lainnya seperti pusat perbelanjaan, hotel bintang tiga dan bintang empat serta beberapa properti yang berstatus strata-title. Semua proyek baru itu sudah mulai dikembangkan dan dalam tahap konstruksi. ”Metland juga memiliki komitmen untuk menyelesaikan proyek-proyeknya tepat waktu,” imbuh Wahyu.

Bapepam-LK Pantau Kasus Elnusa-MEGA


Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) terus memantau seputar kasus PT Elnusa Tbk (ELSA) dan PT Bank Mega (MEGA). Sebab, hilangnya dana Rp 111 miliar itu tidak sekadar merugikan kedua pihak tetapi mencoreng citra perusahaan terbuka yang dikesankan profesional dan transparan. "Kami terus pantau kasus ini secara intensif khususnya terkait dengan penerapan prinsip keterbukaan informasi," ungkap Nurhaida, Ketua Bapepam-LK, di Jakarta, Selasa (26/4).
Merujuk regulasi Bapepam LK nomor X.K.1 tentang keterbukaan informasi yang harus segera diumumkan kepada publik, emiten tidak boleh main-main. Apalagi, kedua emiten yang dibekap kasus itu merupakan perusahaan ternama dan ELSA adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). "Ya, mereka harus patuh pada regulasi," tukas Nurhaida.
Sementara mengenai Bank Mega yang tidak mau bertanggungjawab, Nurhaida menandaskan Bank Mega harus memberi alasan yang tegas dan kuat. Itu penting agar tidak memperkeruh situasi di tengah-tengah masyarakat. "Hari ini kami desak MEGA mempertegas penjelasan tertulis lebih rinci," imbuhnya.

Indeks Jalani Episode Negatif


Episode buruk terus membayangi Indeks harga saham gabungan (IHSG). Tercatat dua hari beruntun indeks dipaksa parkir di zona negatif. Itu terjadi menyusul eksodusnya investor asing setelah market global bergerak volatile. ”Indeks berada di bawah tekanan dan bergerak tidak pasti. Itu wajar karena sudah mengalami apresiasi beberapa hari terakhir,” ungkap Reza Priyambada, Managing Research PT Indosurya Asset Management, ketika dihubungi di Jakarta, Selasa (26/4).
Selanjutnya sebut Reza, indeks masih akan mengalami koreksi sepanjang 2-3 hari ke depan. Deraan pelemahan itu akan dimanfaatkan investor untuk mengatur strategi sebelum melakukan aksi beli. Setelah ada indikasi membaik, secara bergelombang investor akan enyerbu pasar dan memberondong saham bluechip sebagai objek koleksi. ”Saat itulah, indeks akan terkena efek domino dan berpotensi mengalami rebound,” tandas Reza.

Tuesday, 19 April 2011

Selangkah Lagi Metropolitan Ramaikan Bursa


PT Metropolitan Land, anak usaha Grup Ciputra dipastikan menjejak lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam hajatan Initial Public Offering (IPO) itu, perseroan bakal melepas sebanyak 2,273 miliar lembar (30 persen) saham ke publik. Dan, rencana itu akan dilangsungkan pada 13 Mei mendatang.
Dengan rencana itu, Metropolitan Land diperkirakan meraup dana sebanyak Rp 800 miliar hingga Rp 1 triliun. Dana hasil penawaran umum itu akan dipakai untuk sejumlah aksi korporasi. Misalnya, sebanyak 48,5 persen akan dipakai untuk pembangunan Metropolitan Grand Mall, sebanyak 5,25 persen untuk pembangunan M-Gold Residence, sekitar 13 persen untuk pembangunan Hotel Horison Bekasi Ekstension, sementara sisanya 10 persen untuk penyertaan modal pada PT Sumbersentosa Guna Lestari.

Cermati Emiten Tebar Pesona


Tidak sedikit emiten yang tercatat di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya giat membangun pencitraan. Pembangunan pencitraan ini sejatinya tidak begitu jelek tetapi juga tidak baik. Karenanya, investor agar lebih cermat menilai hal itu karena belum tentu komitmen dan kesehatan emiten tersebut sesuai dengan yang dicitrakan.
Indikator tebar pesona itu terlihat dari riset yang dilakukan perusahaan Risk Management, Reinsurance, dan Human Capital Consulting, AON Corporation, pada 2010 dan 2011. ”Kurang lebih sama hasil risetnya,” ungkap Deddy Jacobus, Sekretaris Jenderal Asosiasi Praktisi Manajemen Resiko (APMR), di Jakarta, Selasa (19/4).
Hasilnya adalah bahwa rata-rata beberapa perusahaan yang menjadi responden di Indonesia dari total 200 responden perusahaan global, levelnya masih jauh dari harapan. Rata-rata perusahaan baru level satu dan dua yaitu Inisiasi dan Involving dari lima level yang ada. ”Perusahaan luar sudah banyak yang sampai level 5 atau advance,” imbuhnya.

Indeks Seksi, Investor Asing Mati Gaya


Memburuknya ekonomi AS membuat pasar domestik semakin seksi. Itu menyusul sejumlah investor asing membelokkan modalnya ke dalam negeri. Mereka mengambil opsi eksodus dari negara asalnya untuk menyelematkan portofolio tetap likuid.
Bergelombangnya investor asing masuk pasar domestik cukup beralasan. Itu sejalan dengan keputusan standard & poor's (S&P) menurunkan peringkat AS. Hal tersebut memicu dana masuk ke kawasan emerging market (negara berkembang) semakin deras. "Ini yang membuat market Indonesia semakin menarik dan menjadi tujuan investasi,” ungkap Billy Budiman, Head Of Tecnical Analyst Batavia Prosperindo Securities, ketika dihubungi di Jakarta, Selasa (19/4).